Mei 18, 2009

if you trust me ...... so please talks to me and being honest with me !!!

Seberapa sering kita jadi sulit bersikap jujur? Terlebih berkata jujur kepada orang2 terkasih, kepada mereka yang kita yakini teramat sangat kita cintai?

Alasan yang melatarbelakanginya hampir selalu terkesan sederhana, bahkan mungkin naif ..... hanya karena kita tidak ingin kejujuran itu akan melukainya, akan menghancurkan kebahagiaannya, akan membuatnya khawatir dan kebingungan. Lalu berdasar asumsi tersebut kita meyakini bahwa silent is gold, bahwa menyimpan kejujuran adalah jalan terbaik melindungi yang terkasih.

Berapa sering kita jumpai :
Seorang suami terlilit utang ratusan juta rupiah kekeuh bungkam dari sang istri. Hanya karena ia tak ingin sang terkasih syok dan kalap.
Seorang istri tak kunjung pernah mengalami orgasme saat berhubungan intim, tapi mengunci mulutnya rapat2 dari sang suami. Hanya karena ia tak mau sang terkasih merasa gagal dan tak berdaya.
Seorang gadis mendapatkan hasil test pack-nya positive dan memilih segera menggugurkan kandungannya segera dengan cara apa pun. Atau seorang pria muda mengetahui dirinya telah menghamili anak gadis orang dan memilih tak peduli, bahkan mengintimidasi si gadis. Hanya karena mereka enggan membuat ortu tersayang pilu dan malu.
Sepasang suami istri yang berjuang saling bersopan santun bertahun2 demi menutupi bahtera rumah tangganya yang sudah hancur berkeping2. Hanya karena tak rela keluarga tersayang, anak2 tercinta menjadi ikut terluka dan hancur.
Atau mungkin kita termasuk jugakah salah satunya......

Lalu benarkah dengan menyimpan kejujuran dari mereka yang kita cintai, cinta kita akan lebih besar, lebih bermakna, lebih berharga? Karena kita merasa kita telah berkorban demi mereka sang tersayang? Demi kebahagiaan mereka yang tak terusik?

Bertahun2 yang lalu ada 2 kejadian yang membuat saya merasa seperti ditabrak kereta api.
Pertama, seorang sahabat terbaik saya enggan memberitahukan kematian ibundanya, karena menurutnya kepedihannya hanyalah tanggungan dirinya semata.
Kedua, seorang sahabat yang enggan memberitahukan bahwa ia telah bertemu dengan calon pasangan hidupnya kelak, hanya karena saat itu saya masih single dan jomblo.
Dua kejadian itu memang tidak sedramatis contoh rekaan yang saya berikan di atas. Namun, membuat saya paling tidak tahu rasanya "ditipu" orang yang saya cintai. Dan ...... well, rasanya terhina dan direndahkan.

Kalau menurut saya siy, kalaupun kita memilih menyimpan kejujuran dari orang2 yang kita sayangi tidak lebih karena sesungguhnya kita takut. Dan ketakutan terbesar adalah kita takut mereka akan meninggalkan kita. Jadi sebetulnya kita berbuat seperti itu lebih karena alasan ketakutan kita sendiri. Kita sudah lebih dulu men-judgment mereka, bahkan sebelum mereka tahu mereka berhak memberi respon. So unffair, kan ......

Tidakkah asumsi2 yang telah saya sebut di atas sebagai rekayasa pemakluman kita menyimpan kejujuran dari orang2 terkasih justru mencurangi cinta dan sayang yang terjalin di kedua belah pihak? Bukankah dengan menyimpan kejujuran sesungguhnya kita ragu akan cinta dan sayang mereka terhadap diri kita? Kita ragu mereka tidak betul2 mampu menerima diri kita ini apa adanya? Kita ragu mereka tidak sanggup melewati "badai tornado" bersama-sama, bersisian dan bergenggaman?

Well, bila memang begitu .... sepertinya ada benarnya "Seringkali orang yang paling menyakiti diri kita adalah mereka yang paling kita cintai/sayangi". Dan menurutku dengan memilih menyimpan kejujuran alih2 demi melindungi orang2 terkasih, sesungguhnya kita nga lain sedang menikam ulu hati mereka dari pintu belakang.

Gwe bisa ngebayangin persis perasaan gwe seandainya my hubby punya problem segedhe Mount Everest dan gwe tau-nya justru karena ada orang lain yang keceplosan ngomong ..... Rasanya dijamin kek jadi pelacur di rumah sendiri. Nista dan hina dina. Syok berat karena nga nyangka ternyata cinta gwe nga pernah cukup tuk membikin dia yakin dan percaya sama gwe. Kehancuran emosional gwe pasti teramat parah daripada mendengar serangkaian bad news yang keluar dari mulut my hubby sendiri.

So ... if you really2 love somebody, and you trust your love on him/her, so please, please, please talks honestly to him/her.